Mengapa Bahasa Pemrograman C Disebut C? Dan Kemana Hilangnya Huruf D?

Ridwan
By -
0



Pernahkah kalian bertanya-tanya kenapa bahasa pemrograman yang legendaris seperti bahasa pemrograman C itu namanya C?
 
kenapa sih namanya Bukan A atau Z, tapi justru C. Dan yang lebih aneh lagi, apa yang terjadi dengan D?
Kok gak ada bahasa D yang muncul setelahnya? Nah, hari ini kita akan ngobrol santai soal sejarah ini.

Saya sendiri dulu waktu pertama belajar coding, bingung banget sama nama-namanya,dulu tuh bahasa pemrograman kelihatan aneh aja,kok bisa bisanya diberi nama sesuai huruf alfabet

Ternyata, ada cerita menarik di baliknya, yang melibatkan para jenius di Bell Labs dan sedikit drama teknologi. Yuk, kita ulas bareng!


Awal Mula dari Bell Labs: Tempat Lahirnya Inovasi Gila

Bayangkan saja, kembali ke era 1960-an dan 1970-an, di sebuah gedung besar di New Jersey yang namanya Bell Labs. Tempat ini dulunya didirikan oleh Alexander Graham Bell , seorang ilmuan legendaris yang menemukan pesawat telepon,
Pada masa itu, Bell Labs dimiliki oleh AT&T,yang basically seperti raksasa monopoli dengan dukungan pemerintah. Mereka punya kucuran dana banyak dan kebebasan bereksperimen sepuasnya.
Hasilnya? Penemuan transistor, laser, sel surya, dan tentu saja, bahasa pemrograman C.

Bell Labs ini seperti surga bagi para ilmuwan. Mereka bisa main-main dengan ide gila tanpa takut gagal. Dan dari situlah lahir bahasa pemrograman yang mengubah dunia.

tapi salah satu fakta menarik,sebelum ada bahasa pemrograman C, ada loh bahasa pemrograman B.
Iya, B dulu.


Ada B Sebelum C: Cerita Ken Thompson dan Game Luar Angkasa

pada tahun 1969, ada seorang programmer jenius bernama Ken Thompson di Bell Labs. Dia sedang mengerjakan proyek besar bernama Multics, tapi sayangnyya proyek itu dihentikan.
hasilnya Thompson punya banyak waktu luang,dan ditengah waktu luangnya dia pengen main game buatannya sendiri yang namanya *Space Travel*.
Namun masalahnya, komputer yang tersedia cuma DEC PDP-7,
yang bahkan di zamannya sudah termasuk komputer yang sudah kuno banget, memorinya cuma 8 kilobyte!

Untuk membuat game itu bisa berjalan, Thompson pun bikin sistem operasi baru dari nol.dan dari situlah awal mula kehadiran Unix.
Tapi menulis Unix pake kode assembly (bahasa rendah yang langsung ngomong ke mesin pake 1 dan 0) itu sesuatu yang "nightmare" total. Dia butuh bahasa yang lebih tinggi, dan lebih manusiawi.

Pada saat itu, ada bahasa BCPL (Basic Combined Programming Language). Tapi BCPL terlalu berat untuk PDP-7. Jadi, Thompson memotong-motong, menyederhanakan, dan membuat versi baru.
kemudian dia memberi nama B,
alasannya karena ini seperti versi "B" dari BCPL yang lebih ramping dan cepat. Bekerja bagus di PDP-7,
tapi saat Bell Labs upgrade ke PDP-11 yang lebih canggih, B dinilai mulai ketinggalan.dan Bahasa nya tidak punya tipe data yang efisien, dan membuat performa jelek.


Masuknya C: Upgrade dari B yang Bikin Revolusi

Di sinilah Dennis Ritchie, sahabat Thompson masuk panggung. Ritchie melihat  kalau Unix mau survive di hardware baru, bahasa pemrogramannya harus berkembang. Dia ambil B dan merevisi selama dua tahun.
Inovasi utamanya? Sistem tipe data. Dia menambahkan char buat karakter,dan int buat angka bulat.
Ini membuat  program lebih efisien, karena komputer tahu persis berapa ruang yang dibutuhin.

Awalnya, mereka sebut "New B". Tapi lama-lama, bahasa ini jadi beda banget dan lebih kuat. Karena penerus B, mereka ambil huruf selanjutnya: C. Simpel kan?
Tahun 1973, Ritchie dan Thompson tulis ulang Unix pake C. Sebelumnya, orang bilang bahasa tinggi pasti lambat buat OS.
namun bahasa C membuktikan sebaliknya: cepat, elegan, dan portable ke berbagai mesin.

C ini bener-bener revolusioner. Bayangin, sekarang C ada di mana-mana secara invisible. Dari kernel Android dan iOS, sampe sistem mobil kamu. Kamu gak lihat, tapi dia ada!

Lalu, Apa Kabar D? Kok Gak Muncul-Muncul?

Akhir 1970-an, C sedang dalam posisi jaya-jayanya. Tapi program makin kompleks, dan C mulai menunjukan kelemahannya.
lalu Masuk Bjarne Stroustrup yang juga dari Bell Labs.
Dia suka dengan kecepatan C, tapi ingin menambahkan  konsep Object-Oriented Programming agar  data dan fungsi bisa digabung jadi "objek" yang lebih rapi.

Waktu ingin memberi nama, logikanya selanjutnya adalah bahasa D. Tapi karena orang Bell Labs suka main kata. Kolega Stroustrup, Rick Mascitti, usul C++.
Kenapa? Karena di C, "++" artinya tambah satu. Jadi, C++ berarti C yang ditambah, lebih baik!
Lelucon nerd yang brilian, dan nama itu nempel sampe sekarang. C++ dipake buat game, browser, dan banyak lagi.

Akibatnya, slot D kosong selama hampir 20 tahun. Baru tahun 2001, Walter Bright, insinyur compiler, klaim huruf itu. Dia frustasi sama C++ yang "kaku" karena harus kompatibel sama kode lama. D punya kekuatan C dan fitur C++, tapi dengan desain modern: manajemen memori lebih baik, lebih aman dari bug.

Sayangnya, D datang telat. Dunia udah pakai Java, C#, dan kemudian Rust yang fokus keamanan memori.
D jadi bahasa niche, dipake Netflix atau eBay buat tugas spesifik, tapi gak pernah jadi mainstream.


Bonus: Ada A Gak Sih?

Kalo kita mundur lagi, sebelum B ada BCPL, yang turunan dari CPL, dan CPL dari ALGOL (1958). ALGOL ini seperti kakek buyutnya coding modern – bahasa algoritmik universal. Jadi, gak ada A resmi, tapi ALGOL bisa dibilang "A" yang hilang.


Penutup: C Masih Raja di 2026

Sekarang, di tahun 2026, C masih jadi fondasi dunia tech. Bahkan Python atau JavaScript sering dijalanin pake interpreter yang ditulis di C. Cerita ini dimulai dari seorang programmer yang pengen main game di komputer kuno, dan berakhir dengan bahasa yang ngubah dunia.

Kalian punya pengalaman belajar C atau C++? Share di komentar yuk! Atau ada bahasa favorit lain? Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Keep coding! 🚀
Tags:

Post a Comment

0 Comments

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

3/related/default